Sabtu, 31 Januari 2015

Botol

Anda tahu botol bukan?
Mungkin sepintas tidak bernilai jual, tapi coba diisi air putih, harganya mungkin 5 ribu. Coba isi dengan jus, harganya mungkin jadi 10 ribu atau lebih. Coba isi dengan madu terbaik, harganya bisa jadi ratusan ribu. Coba isi dengan minyak wangi paling harum, harganya mungkin jadi jutaan.


Tapi coba isi dengan air got atau air comberan, tidak akan bernilai bahkan mungkin langsung dibuang karena menjijikkan. Yap, karena apa yang masuk ke dalam botol adalah apa juga yang akan keluar darinya.

Kita sebagai manusia juga seperti botol. Bukan botolnya ( sekali pun ada harganya ) yang memberi "harga atau nilai" pada diri kita. Tapi karakter dan isi yang ada pada diri kita. Boleh-boleh dan sah-sah saja mempercantik diri tapi akan lebih baik mempercantik karakter dalam diri kita dari hari ke hari. Karena itu yang akan menentukan bobot dari kehidupanmu.

Suara kecewa

Sama seperti kebanyakan dari kalian, dulu saya membayangkan negeri ini menjanjikan masa depan yang lebih baik, lebih indah. Hingga sampai saat ini saya masih sangat terpukul karena ternyata pekerjaan yang saya kerjakan adalah pekerjaan kelas kuli, pekerjaan kasar. Bagi saya, keindahan negeri ini hanya bisa saya lihat, bukan untuk dinikmati. Seperti orange, kadang terlihat begitu manis dari luar tapi dalamnya begitu asam. Satu-satunya alasan kenapa saya melakukannya adalah karena mereka harus hidup layak di usia tua, ayah ibuku.

Dan dari itu semua saya belajar banyak hal. Dari rasa kecewa iti sendiri saya belajar bahwa sesuatu hal itu memang harus diperjuangkan, tidak cukup hanya diminta lewat lisan.  Dan dari rasa yang sama, saya juga belajar bahwa seseorang yang pergi dari hidup kita itu bukan karena benci, tapi lebih sering karena kecewa.

Lantas, dari mana rasa kecewa itu ada? Jawabnya diri kita sendiri. Kita mungkin terlalu menaruh harapan pada suatu hal untuk bisa berjalan sesuai yang kita inginkan. Dan ketika semua menjadi berseberangan dengan harapan itu sendiri, rasa kecewa itu muncul ke permukaan. Ya, akan selalu ada kecewa di setiap harapan. So, jalani saja dengan memberi yang the best dari diri kita.



La Tahzan, innallaha ma ana.

Jumat, 30 Januari 2015

Banyak anak banyak rezeki

Anak memang dilahirkan lengkap dengan jodoh, ajal dan rezekinya. Tapi benarkah, banyak anak banyak rezeki?

Saya sendiri setuju dengan filosofi ini. Karena bagi saya, anak itu sendiri adalah bagian dari rezeki. Jadi tidak boleh dibatasi. Tapi dengam syarat orang tuanya harus bisa menjamin keperluan hidupnya agar tumbuh menjadi manusia berkualitas. Anak jangan ditolak karena ia adalah titipan. Tinggal bagaimna kita mendidiknya dengan baik karena akan terasa saat kita tua nanti. Merekalah tempat kita menggantungkan hari tua kita nantinya. Anak juga merupakan investasi dunia akhirat. Investasi dunia karena merekalah penerus kita. Investasi akhirat karena mereka yang akan mendoakan kita ketika telah tiada. Bukankah salah satu amal yang tidak terputus adalah doa anak yang sholeh?



Banyak anak banyak rezeki bagi orang dulu ada benarnya juga. Karena kebutuhan mereka belum sekompleks orang jaman sekarang. Orang dulu sudah puas kalau kebutuhan primernya terpenuhi. Tapi orang sekarang bukan cuma kebutuhan primer yang harus dipenuhi tapi juga kebutuhan pamer yang sebenarnya tidak penting. Orang dulu bisa makan aja sudah cukup, orang sekarang mau makan aja pamer, harus difoto dulu.hhhh

Di jaman modern seperti sekarang ini, orang tua harus pintar mengatur keuangan keluarga agar kualitas hidup anak-anak terjamim dengan baik. Ngomongin anak tidak bisa dilepaskan dari masalah kependudukan. Indonesia sebagai negara berpenduduk terbanyak keempat didunia sudah mulai menjalankan perencanaan kelahiran. Menurut saya tidak perlu karena Tuhan itu Maha Adil, negara yang luas pasti penduduknya banyak. Terlepas dari semua masalah itu, saya berharap keluarga Indonesia bisa menjadi keluarga yang bijak. Saya tidak mempermasalahkan setiap keluarga akan punya anak berapa. Yang terpenting Anda bisa bertanggung jawab pada anak yang Anda hasilkan.

Ibu yang melahirkan paling banyak di dunia dipegang oleh petani Rusia yang melahirkan 57 anak dalam 21 persalinan. 4 pasang kembar 4, 1 pasang kembar 3, 10 pasang kembar 2 dan sisanya satu-satu. Di Indonesia, rekor MURI dipegang oleh perempuan asal Sragen yang melahirkan 26 anak. 17 hidup 8 kali keguguran dan 1 meninggal. Mempunyai banyak anak dalam satu pernikahan aflah keniscayaan. Tapi apakah lantas banyak anak banyak rezeki?


Hasil sebuah survey menyimpulkan bahwa di negara maju kekayaan mengalir dari orang tua ke anak. Sedangkan di negara berkembang, kekayaan mengalir dari anak ke orang tua. Inilah kemungkinan yang menjadi penyebab di negara berkembang lahir prinsip banyak anak banyak rezeki.

Sekali lagi, mau punya anak berapa pun itu hal. Tapi perlu diingat dalam hak ada tanggungjawab. Anak ibarat sebuah benih tanaman yang akan tumbuh dengan baik atau sebaliknya tergantung pada kebun dan tempat menanamnya. Dan tergantung pemilik bagaimana merawat dan memeliharanya.

Perlu diingat juga bahwa "banyak anak banyak rezeki" adalah kalimat yang belum titik karena masih ada terusannya. Lengkapnya " banyak anak banyak rezeki yang harus dicari orang tuanya untuk membesarkannya agar kelak menjadi manusia yang cerdas dan berbudi luhur." Anak adalah buah cinta yang jangan sampai berubah menjadi buah derita dan petaka dalam kehidupan berrumah tangga. Semoga kita semua mempunyai anak yang Qurrota Ayyun. Aamiin.

Gaya hidup

Menikmati senja hari ini membuat saya bersyukur karena itu selalu membuat perasaan jadi lebih baik. Namun, di jaman modern seperti sekarang ini orang cenderung mengikuti keinginan mereka untuk hidup serba instan.




Kebanyakan dari kita mengukur kebahagiaan dengan banyaknya harta benda atau materi. Gaya hidup ala artis yang begini ini yang membuat kita selalu lebih besar pasak daripada tiang. Artinya kita terlalu memaksakan keinginan yang sebetulnya tidak perlu. Atau mungkin kita yang tidak bisa membedakan antara keinginan dan kebutuhan. Yap, karena gaya hidup yang selalu membuat gaji atau penghasilan selalu kurang.




Sebagai contoh begini. Banyak dari kita yang baru masuk dunia kerja saja sudah gaya kredit motor dengan angsuran sekian ratus ribu per sekian bulan. Dengan demikan uang yang seharusnya bisa digunakan untuk hal yang lebih penting harus lewat begiti saja untuk bayar angsuran. Alhasil, belum sampai gajian berikutnya banyak dari kita yang sudah gelagapan. Kadang malah masih banyak yang katanya kerja tapi masih minta orang tua. Apa tidak malu? Lha katanya sudah kerja? Seharusnya setelah masuk dunia kerja, meskipun belum bisa ngasih uang ke mereka, paling tidak sudah tidak minta uang sama mereka.






Bukankah Rosulullah SAW mengajarkan kita untuk hidup sederhana. Karena dalam kesederhanaan itulah kita bisa merasakan indahnya hidup. Syukuri apa yang ada dan jangan menuntut apa yang tidak ada. Wajar saja punya keinginan. Tapi perlu diingat juga bahwa semua keinginan itu harus Anda perjuangkan dengan bekerja lebih giat lagi dan lagi.








Lihatlah ke bawah untuk urusan dunia, agar Anda bisa bersyukur. Lihatlah ke atas untuk urusan akhirat, agar Anda lebih bisa termotivasi. Tetaplah sederhana meski Anda sudah banyak harta. Kelebihan harta yang Allah SWT berika kepada Anda jangan digunakan untuk meningkatkan gaya hidup tetapi hendaknya Anda menjadi manusia yang lebih dermawan. Jangan pernah lupa juga bahwa di dalam harta itu selalubada hak orang lain yang harus ditunaikan.







Orang kaya yang sebenarnya adalah mereka yang mampu hidup sederhana dalam keberlimpahan mereka. Sedikit apapun uangnya akan cukup jika digunakan untuk hidup. Tapi sebanyak apapun uangnya tidak akan cukup jika digunakan untuk memenuhi gaya hidup. Ingat, tekanan selalu berbanding lurus dengan gaya. Jika hidup Anda banyak tekanan itu mungkin karena Anda kebanyakan gaya. So, be modest.

Garis tanpa putus

Apa rasanya menemukan garis lintang titik kehidupan?
Apa rasanya menemukan titik yang kau sebut sebagai alasan untuk pulang?
Pada hari di mana mungkin cintamu terabaikan,
Pada hari di mana cintamu mungkin harus bertepuk sebelah tangan,
Pada hari di mana seseorang memberimu harapan tapi bukan dirimu yang diharapkan,
Pada hari di mana seseorang yang berjanji untuk bersamamu, bersiap meninggalkanmu,
Pada hari di mana seseorang yang memaksamu berjuang, akhirnya memintamu menyerah,
Pada hari di mana sepertinya kau tidak ditakdirnya untuk bersama orang yang kau cinta,
Pada hari di saat kamu yakin dia harus menjadi masa lalumu.
Jangan pernah ada tanggal yang kau silang sebagai hari bersejarah saat luka juga kau undang.
Hingga malammu tak lagi pernah manis karena seisi kamarmu terisi oleh tangis.

Percayalah,
Akan selalu ada pengganti untuk jiwa yang hilang.
Aamiin kan saja keindahan rahasia Sang Pencipta.
Tidak akan ada yang tahu tentang hari esok, cukup pejamkan mata dan nikmatilah hari ini.
Angan terlalu tajam untuk kau telan buru-buru.
Bersyukurlah, karena setidaknya ia telah berlalu darimu hari ini.
Dan semoga nanti, kau akan disatukan sebagai garis yang tak terputuskan bersama pribadi baru.
Aamiin

Menjemput Rezeki

"Mencari rezeki, mencari ilmu mengukur jalanan sendirian. Begitu terdengar suara adzan, kembali tersungkur hamba."

Ini adalah sepenggal kisah tentang perjuangan seorang Bapak yang tak pernah menyerah rezeki Tuhannya.

Setengah jam menjelang adzan dzuhur, dari jauh mata saya menangkap sosok tua dengan pikulan yang membebani pundaknya. Dari bentuk pikulan yang dipikulnya, saya hapal betul apa yang dijajakannya. Penganan langka yang menjadi jajanan kegemaran saya semasa kecil. Segera saya hampiri dan benarlah, yang dijajakannya adalah kue rangi. Terbuat dari sagu dan kelapa yang setelah dimasak, dibumbui gula merah yang dikentalkan.

Satu yang paling khas dari kue ini, selain bentuknya yang kecil dan murah, penjualnya kebanyakan adalah mereka yang sudah berusia lanjut.
" tiga puluh tahun sudah Bapak jualan kue ini." Akunya pada saya yang tidak hisa menyembunyikan kegembiraan karena bisa menemukan jajanan mssa kecil ini. Sebab sudah sangat langka penjual kue ini. Kalau pun ada, sangat jarang yang masih pakai pikulan dan pemanggang yang menggunakan bara arang sebagai pemanasnya. Tiga jam setelah berkeliling, baru saya lah yang menghentikannya, akunya lagi. "Kenapa Bapak tidak mangkal saja agar tidak lelah berkeliling?. Iba saya sambil menerka usianya yang sudah diatas 50 tahun. " Saya tidak pernah tahu di mana Allah SWT menurunkan rezeki. Jadi saya tidak bisa menunggu di suatu tempat. Dan rezeki itu memang bukan untuk ditunggu, harus dijemput karena rezeki tidak ada yang mengantar." Jawabnya panjang. Dan beruntung saya bisa mendapatkan petuah bijak yang tidak saya minta, tapi sarat makna.

" Setiap langkah kita dalam mencari rezeki ada yang menghitungnya. Dan jika kita ikhlas dengan semua langkah yang kadang tidak menghasilkan apa pun itu, hanya ada dua kemungkinan. Jika tidak Allah SWT mempertemukan kita dengan rezeki di depan sana, biarlah langkah itu menjadi tabungan amal kita di akhirat nanti. Dan satu hal yang pasti bahwa rezeki iti sudah ada yang mengatur dan aturannya jelas, Allah SWT tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang merubahnya." Lagi kalimat petuah meluncur deras meski parau terdengar suaranya.




" Tapi Bapak kan sudah tua untuk terus tetap memikul dagangan ini?." Pancing saya agar terus keluar untaian hikmahnya. Benarlah saja, ia memperlihatkan bekas hitam di pundaknya yang mengeras. " Pundak ini, juga tapak kaki yang pecah ini akan menjadi saksi di akhirat nanti bahwa saya tidak pernah menyerah menjemput rezeki Allah SWT."





Sudah semestinya keluarga, istri dan anak-anak yang dihidupinya dengan kue ini berbangga memiliki penjemput rezeki seperti Bapak ini. Tidak semua orang memiliki bekas dari sebuah pengorbanan menjalani kerasnya kehidupan hanya untuk mencari rezeki yang halal bagi keluarganya. Tidak semua orang harus melalui jalan panjang, panas terik, deras hujan bahkan tajamnya kerikil hanya untuk membuka harapan esok pagi. Tidak semua orang harus teramat sering menggigit jari menghitung hasil yang kadang sering tidak seimbang dengan deras peluh yang berkali-kali harus dibasuhnya sepanjang perjalanan. Dan Bapak ini, termasuk bagian dari yang tidak semua orang itu. Yang Allah SWT tidak akan salah menjumlah seluruh langkahnya, yang takkan mungkin lupa menampung setiap peluhnya dan kemudian mengumpulkannya sebagai tabungan amal kebaikan sebagai penghapus dosa-dosanya.




Apapun pekerjaan Bapak-bapak kita masing-masing, percayalah bahwa mereka tidak akan pernah menyerah menjemput rezeki Allah SWT untuk kita. Yang mungkin hasil jerih payah itu sering kita habiskan hanya untuk membiayai semua kenakalan-kenakalan kita.
Rasa tanggungjawab dan semangatnya akan tetap menjadi inspirasi tersendiri bagi saya.
" Dan apabila telah ditunaikan sholat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kalian beruntungm" ( Qs. Jumu'ah 10 )

Selasa, 27 Januari 2015

Mereka

Sinar itu,
Sinar yang menandakan dunia masih berjalan.
Cahaya itu yang selaluembuatku berkata : "hai, aku masih di dunia".
Inilah di saat Tuhan terus memberikan waktu untuk terus memuja-Nya di saat kehidupan akan dimulai.
Kemarin, hari ini dan esok akan terus sama. Dan setiap waktu harus dilewati dengan baik karena waktu tak akan menunggu kita atau kembali.
Angin yang bernapas dan menghembuskan ketenangan, meyakinkanku bahwa hari ini akan menjadi luar biasa.



Di sinilah aku bercermin.
Berdoa dan bersyukur akan kemegahan dunia.
Aku dapat menggambar kejeniusan, kewibawaan dan keberanian yang membuatku merasa berjiwa.
Terimakasih cermin,
Refleksimu tetap mengingatkanku pada wajah-wajah jenius, wibawa dan berani itu
Dan terkadang aku lupa dengan wajahku sendiri.



Dalam sukaku dan renungku,
Kehadiran merekalah yang membuatku tetap berpijak dan selalu mengundangku dalam kebahagiaan.
Juga selalu membantuku menggenggam seluruh permasalahan-permasalahan dunia.
Asaku tetap seperti pensil yang selalu ku tajamkan, tidak seperti keputusasaan yang terlihat dari mata orang-orang yang selalu melihat ke bawah.
Dan peranku adalah melengkapi harapan mereka dan mengubahnya menjadi senyuman.



Tapi beginilah aku dengan  banyak kekuranganku.
Tapi lihatlah juga mereka, sahabat dan keluarga. Merekalah bukti bahwa harapan itu masih terus ada.
Kalian adalah alasan satu-satunya kenapa aku masih berdiri tegap menatap masa depan.
Terimakasih telah meletupkan semangatku setiap saat.